Tidak cukup hanya “pandai”, tapi juga harus “bijak” ber-sosmed

images

Social media atau biasa disingkat sosmed kini sudah bukan barang langka. Hampir setiap orang kini mempunyai akun sosmed. Bukan hanya satu atau dua, bahkan sampai lima akun sekaligus. Bila dahulu para peselancar internet dianggap modern dan mewah, kini dianggap normal dan biasa saja. Bahkan dikatakan ketinggalan bila tak dapat mengaakses internet dan sosmed didalamnya.

Menurut data yang di keluarkan we are social tahun lalu (2015), di Indonesia ada 88,1 juta pengguna internet. 79 juta di antaranya merupakan pengguna media sosial aktif. Bahkan Indonesia termasuk Negara dengan penduduk paling active ber-sosmed-ria di dunia.dan jangan lupa durasi dalam bersosmed. Sebagian dari kta bahkan lebih banyak ber social media daripada bersosialisasi di kehidupan nyatanya.  jadi dapat disimpulkan bahwa rakyat indnesia sudah  “pandai” sosmed.

Tentu harus disyukuri bila Indonesia termasuk terdepan dalam penggunaan sosmed ini. Namun apakah penduduk dunia maya Indonesia ini sudah “bijak” bersosmed?. Dilihat dari fenomena-fenomena yang ada, saya rasa masih terlalu banyak para netizen (sebutan pengguna sosmed) yang belum bijak dalam menggunakan akun sosmednya. Ini terbukti masih dapat beredarnya informasi-informasi bohong atau hoax. Bahkan banyak diantaranya dipercayai. Juga bisa kita tilik dari sikap dan tingkah laku netizen yang jauh dari bijak. Diantaranya adalah : Membagi hal-hal yang kurang penting, berdebat tanpa pengetahuan yang cukup, dan saling caci maki antar kelompok. apa yang akan timbul dari masifnya penggunaan sosmed tanpa kebijaksanaan tersebut?. Seperti lazimnya hal-hal yang tidak bijaksana, ketidak bijaksana-an dalam ber sosmedpun menimbulkan ekses negative juga.

Di era digital ini, meskipun kita menamainya dengan dunia “maya”, efek dari dunia tersebut bisa ke dunia nyata. Kita rasakan real di kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh konkret misalnya, bagaimana dunia maya (khusunya medsos) bisa menggerakkan orang untuk memilih pemimpin-pemimpin. Atau bagaimna interaksi di medsos dapat digunakan sebagian orang untuk bahan pertimbangan memilih kepercayaan yang dianutnya.

nah, efek buruk dari ke-tidak bijaksana-an kita dalam bersomed dapat pula menimbulkan keburukan daam kehidupan nyata kita, keluarga kita, bahkan bangsa dan Negara kita. Jelas hal ini sangat amat berbahaya. Kita tentu tidak mau hal buruk terjadi pada kita semua.

Apalagi, kini sudah banyak yang melihat social media sebagai alat untuk mempengaruhi yang  efektif. Sialnya, yang menggunakan sosmed sebagai alat untuk mempengaruhi bukan hanya orang baik. Banyak juga pihak-pihak yang jahat dan tak bertanggung jawab juga memanfaatkannya. Contoh yang familiar adalah terorisme. Bagaimana kini banyak sekali orang yang ingin Indonesia hancur tersebut menyebarkan isu-isu radikalisme melalui social media. Dan banyak para netizen “tidak bijak” yang menjadi korbanya.

Jadi sangat bijak bila  kita mulai berfikir kembali. “sudah bijak kah saya dalam bersosmed?”. Sebelum hal buruk terus terjadi sampai kita tak mampu memperbaikiny lagi. Sebelum semua menjadi terlambat.

Bagi yang merasa belum bijak dalam bersosmed, ada beberapa tips yang dapat dilakukan.

(1) jangan mudah percaya dengan postingan atau data di sosmed. Bila anda benar-benar tertarik dengan hal tersebut. Luangkan waktu anda untuk menelaahnya. Lalu mengkroscheknya dengan sumber-sumber lain. Dengan demkian anda akan mendapatkan gambaran yang utuh dari informasi tersebut.

(2) berfikir sebelum bertindak. Berfikirlah terlebih dahulu sebelum memutuskan tindakan yang akan anda lakukan di sosmed. Baik itu menulis postingan, membagi link, atau berkomentar. Yang anda hadapi di sosmed adalah manusia-manusia nyata. Sangat mungkin tindakan anda menyinggung atau tidak menyenangkan bagi orang lain. Seperti halnya dikehdupan biasa, anda tentu tidak mau menyakiti orang lain bukan?.

(3) jangan emosi di sosmed. Perlu anda ingat, kata social dalam term “social media” menunjukan bahwa sosmed adalah ranah social, Ranah public. Sosmed sama saja dengan tempat umum yang ramai dengan orang berinteraksi. Bayangkan anda marah-marah dan teriak-teriak di terminal seumpamanya. Seperti itulah gambaran bila anda melakukannya di sosmed. Mamlukan bukan?.

(4) jangan mengandalkan sosmed sebagi tempat belajar utama. Jadikan sosmed hanya sebuah alat bukan sumber utama belajar. Belajarlah dengan membaca buku-buku yang berkualitas, guru-guru yang bijak bestari dan diakui keilmuannya, atau lembaga-lembaga pendidikan yang kompeten. Social media tidak dirancang sepenuhnya sebagai tempat belajar. Maka sangat mungkin informasi yang ada tidak tepat dan tidak lengkap.

Itulah beberapa tips yang anda bisa coba agar lebih bijak dalam bersosial media. Sehingga tidak menimbulkan keburukan bagi anda sendiri, lebih-lebih orang lain. Karena bila nabi Muhammad bersabda “sebaik-baiknya orang adalah yang berguna (memberikan efek positive) bagi orang lain”, maka bagaimana dengan orang yang memberi efek negative pada orang lain?. Seburuk-buruknya manusia bukan?.