dibalik jargon “sesuai nabi!”

islamic-wallpaper_muhammad_saw-9

belakangan ini banyak sekali jargon-jargon yang muncul di dunia islam. salah satunya jargon : “sesuai nabi!”. jargon ini biasanya di pakai satu golongan yang nyinyir dengan ibadah-ibadah golongan lainnya. menurut mereka banyak ibadah yang tidak sesuai tuntunan nabi. hal ini sering sekali menjadi konflik antar umat islam sendiri. padahal yang mengkritik sendiri belum tentu tahu dengan pasti apa yang di praktekan nabi muhammad saw.

padahal sebenarnya, diskursus tentang sesuai atau tidak sesuai ibadah dengan apa yang nabi lakukan adalah hal yang rumit dan kompleks. hal tersebut hanya bisa di bahas oleh ulama yang mumpuni. dan kabar baiknya, hal tersebut sudah dilakukan para ulama sejak dahulu. apa yang ada sekarang adalah buah dari ijtihad tersebut. jadi kita tak seharusnya kembali mempertanyakannya lagi. apa yang ulama ajarkan tentu saja sudah melalui filter keilmuan mereka. kita yang tak cukup ilmu ini tak perlu (bahkan tak sanggup) memfilternya lagi.

mengenai kompleksitas diskursus sesuai nabi tersebut, nampaknya status facebook dosen monash law school yang juga ulama asal indonesia : nKH. nadirsyah hosen berikut bisa jadi bahan bacaan :

Apa yang kamu baca saat ruku’, sujud dan salam?

Ada sebagian kawan yang begitu rigidnya memahami ibadah. Pokoknya semuanya harus sesuai dengan apa yang Nabi Muhammad contohkan, dan kita harus konsisten mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Baginya, hanya ada satu kebenaran, yaitu yang sesuai dengan contoh dari Nabi.

Saya tanya: “apa yang harus kita baca di saat kita ruku’ dan sujud dalam sholat?”

Sebelum dia menjawab, saya sodorkan perbedaan bacaan yang dilakukan oleh Nabi:

Hadis pertama menceritakan bahwa Nabi membaca, “Subhana Rabbiyal A’zim” ketika ruku’ dan “Subhana Rabbiyal A’la” ketika sujud. Hadis ini diriwayatkan oleh Huzaifah (Sunan al-Nasa’i, Hadis Nomor 1.036). Akan tetapi Siti Aisyah (radhiyallahu ‘anha) meriwayatkan hadis lain (Shahih Muslim, Hadis Nomor [HN} 752, Sunan Abi Dawud, HN: 738, Sunan al-Nasa’i, HN 1.038). Dalam hadis ini, diriwayatkan bahwa Rasul membaca “Subbuhun quddussun rabul malaikati war ruh” baik ketika ruku’ maupun ketika sujud. Yang menarik, ternyata Aisyah meriwayatkan pula bahwa Rasul membaca teks lain, “Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummafighrli” (Shaihih Bukhari, HN 752 dan 3.955).

Kawan tersebut mulai kebingungan.

Yang mana yang sesuai dg sunnah Nabi dan yang mana yang bid’ah? Beranikah kita bilang Huzaifah berbohong? Beranikah kita bilang bahwa Siti Aisyah, isteri Nabi, lupa teks mana yang sebenarnya dibaca Nabi? Bagaimana mungkin dari satu perawi (Aisyah) terdapat dua teks yang berbeda?

Lantas dimana konsistensi bacaan Nabi?

Contoh berikutnya, ada Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa ketika Nabi mengakhiri sholat dengan menoleh ke kanan beliau membaca, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” dan ketika menoleh ke kiri membaca salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi” (tanpa “wa barakatuh”). Lihat Sunan Abi Dawud, HN 846.

Hadis lain meriwayatkan bahwa baik ke kanan maupun ke kiri, Nabi menolehkan mukanya sambil membaca salam “tanpa wa barakatuh” [Sunan al-Tirmizi, HN 272; Musnad Ahmad, HN: 3.516, 3.549, 3.656, 3.694, 3.775, 3.849, 3.958, 4.020, dan 4.055; Sunan al-Nasa’i, HN: 1.302, 1.130, 1.303, 1.305, 1.307 dan 1.308].

Yang mengejutkan, Sunan Abi Dawud [HN: 845] juga meriwayatkan “tanpa wa barakatuh”, padahal pada Hadis Nomor [HN} 846 dia meriwayatkan dengan “wa barakatuh”. Sekali lagi, yang mana yang benar? Kenapa pula Abu Dawud mencatat dua hadis berbeda ini dalam kitabnya? Yang mana yang bid’ah dan yang mana yang sunnah. Mungkinkah kebenaran itu tidak satu tetapi berwajah banyak? Mungkinkah yang kita anggap bid’ah selama ini ternyata juga dipraktekkan Nabi?

Perdebatan akan status hadis-hadis di atas memicu pertanyaan: kenapa Nabi tidak konsisten hanya membaca satu bacaan saja saat ruku’, sujud dan salam? Apa mungkin semua bacaan itu benar? Kalau iya, apa berarti kebenaran itu tidak cuma satu tapi beraneka ragam?

Kalau hanya sekedar melihat perbuatannya tanpa memahami maksud dan tujuannya, maka beginilah jadinya…

Alkisah ada seseorang yang ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Orang itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya. Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. “Mengapa api itu kau tiup?” tanya orang itu. “Agar lebih panas dan lebih besar apinya,” jawab Nasrudin.

Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya. “Mengapa sop itu kau tiup?” tanya orang itu lagi. “Agar lebih dingin dan enak dimakan,” jawab Nasrudin. “Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus orang itu sambil berjalan keluar rumah, “Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu.”

Ah, konsistensi tongue emotikon

Mungkin sudah waktunya kita mengurangi perdebatan teknis beribadah dan mulai merenungi bagaimana shalat kita lewat gerakan dan bacaan ruku’, sujud dan salam bisa melesat mi’raj ke sisi-Nya. Konsistensi itu bukan semata pada gerakan dan bacaan tapi pada tujuan kita beribadah.

‪#‎ilahi‬ anta maqsudi #‪#‎wa‬ ridhaka matlubi

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Monash Law School